Senin, 29 Juni 2015

Amalan Yang Utama Dalam Bulan Ramadhan

Qiyam Ramadhan
Qiyam Ramadhan, ialah shalat sunnah malam (Qiyam al–Lail) di bulan Ramadhan yang biasa disebut shalat Tarawih, shalat Tarawih termasuk shalat – shalat sunnah malam yang disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya yang berfungsi menyempurnakan shalat – shalat wajib yang kurang sempurna, sekaligus sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah S.W.T.

Rasulullah S.A.W bersabda: “Barangsiapa yang berqiyam Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharap pahala serta ampunan dari Allah, niscaya diampuni dosanya yang lalu.” (al–Lu’lu wal–Marjan, 1/145: 435).

Rasulullah pernah melaksanakan qiyam Ramadhan ini beberapa malam, setelah beliau melihat para sahabat sangat antusias mengamalkannya, maka beliau meninggalkan shalat ini karena merasa khawatir diwajibkan oleh Allah terhadap umatnya.

Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah R.A: “Pada suatu malam Rasulullah shalat (sunnah malam) di dalam masjid, lalu para sahabat mengikuti shalat beliau. Pada pagi harinya para sahabat membicarakan hal itu, sehingga pada malam berikutnya para sahabat yang ikut shalat makin banyak, beliau pun keluar mengimami mereka, lalu paginya para sahabat membicarakan hal itu, sehingga jumlah jama’ah pada malam ketiga bertambah lebih banyak lagi, lalu beliau keluar mengimami mereka. Pada malam ke empat masjid sudah tidak muat menampung jama’ah (karena sangat banyak yang hadir), pada malam itu beliau tidak keluar (dari rumahnya) hingga menjelang shalat Shubuh baru beliau keluar. Setelah selesai shalat Shubuh, beliau menghadap orang banyak membaca syahadat, lalu bersabda: Amma ba’du, sungguh aku tidak bermaksud menganggap ringan urusan kalian, akan tetapi aku khawatir kalau shalat malam itu diwajibkan atas kalian, lalu kalian merasa berat untuk mengerjakannya. Yang demikian itu terjadi pada bulan Ramadhan.” (al-Bukhari: 872, Muslim: 1271).
  • Disyari’atkan Shalat Tarawih Berjama’ah Mengikuti Imam Sampai Shalat Selesai
Dari Abu Dzar berkata: “Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah, akan tetapi beliau tidak melakukan shalat malam (Tarawih) dengan kami sehingga bulan Ramadhan tinggal tersisa tujuh hari, lalu beliau shalat bersama kami hingga sepertiga malam, kemudian beliau tidak shalat lagi pada hari keenam (maksudnya ketika bulan Ramadhan tersisa 6 hari). Lalu beliau shalat lagi bersama kami pada hari yang kelima hingga tengah malam. Kemudian kami berkata: Wahai Rasulullah, alangkah baiknya seandainya engkau shalat sunnah (Tarawih) bersama kami pada malam – malam yang tersisa ini.Beliau menjawab: Sesungguhnya orang yang shalat bersama imam hingga selesai niscaya ditulis oleh Allah baginya pahala sebagai orang yang shalat sepanjang malam.Kemudian beliau tidak shalat lagi (ketika puasa tinggal 4 hari) ketika bulan Ramadhan tersisa 3 hari, beliau shalat bersama kami, beliau mengajak seluruh keluarga dan istri – irtrinya sehingga kami merasa khawatir terlamabat dari al-Falah. Lalu Jubair bin Nufair bertanya kepada Abu Dzar: Apa yang dimaksud al-Falah? Dia menjawab: Sahur.“ (an-Nasai: 1587, at-Tirmidzi: 734, Abu Daud: 1167, Ibnu Majah: 1317, Ahmad: 20.450).
  • Jumlah Raka’at Shalat Tarawih
Secara lisan Rasulullah S.A.W tidak pernah membatasi jumlah raka’atnya,
Abdullah bin Umar R.A berkata: “Bahwasannya seseorang bertanya kepada Rasulullah S.A.W tentang shalat malam. Rasulullah menjawab: Shalat malam itu dua raka’at – dua raka’at, jika salah seorang diantara kamu khawatir kedahuluan waktu shalat Shubuh, hendaklah ia shalat satu raka’at sebagai witirnya semua shalat yang telah ia kerjakan.” (Muslim: 1239, al-Bukhari: 452).

Yang lebih utama, adalah mengerjakan 11 raka’at sebagaimana yang telah dikerjakan oleh Rasulullah S.AW berdasarkan hadits Ummul Mukminin ‘Aisyah,
Abu Salamah bin Abdurrahman bertanya kepada Ummul Mukminin ‘Aisyah R.A: “Bagaimana shalat yang dilakukan Rasulullah S.A.W di dalam bulan Ramadhan?Aisyah menjawab: Rasulullah tidak pernah melakukan lebih dari sebelas raka’at di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan…..” (al-Bukhari: 1079).

Jika seseorang sudah shalat Tarawih berjama’ah bersama imam sampai selesai 11 raka’at pada awal malam (sesudah Isya’), kemudian dia ingin beraqarrub (mendekatkan dirinya kepada Allah) pada isa malamnya dengan mengerjakan shalat sunnah lagi boleh – boleh dan sah – sah saja, tetapi jangan shalat witir lagi.

Karena Rasulullah menganjurkan memperbanyak shalat:
Shalat adalah pokok persoalan yang paling utama, oleh karena itu barangsiapa merasa mampu memperbanyak, maka perbanyaklah!” (Shahih al-Jaimush Shagir wa Ziyadatuhu II/719: 3870).

Tholq bin ‘Ali berkata: “Aku mendengar Nabi bersabda: Jangan shalat witir dua kali dalam satu malam.” (Shahih al-Jaimush Shagir wa Ziyadatuhu II/1256: 7567).

Tilawah dan Tadarus
Sesungguhnya orang – orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam – diam dan terang – terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Fathir [35]: 29-30). Membaca al-Qur’an ada 2 macam:
  • Tadarus, yaitu membacanya, kemudian mempelajari makna yang terkandung di dalamnya, membenarkannya dan melaksanakan hokum – hukumnya dengan menjalankan perintah – perintah-Nya dan menjauhi larangan – larangan-Nya.
Rasulullah bersabda: “Dan tiada berkumpul suatu kaum di dalam Bait Allah (Masjid) untuk membaca dan mempelajari al-Qur’an antara mereka, melainkan pasti diturunkan kepada mereka ketenangan dan diliputi rahmat serta dikerumuni Malaikat, dan disebut – sebut oleh Allah di depan para Malaikat-Nya…..” (Shahih al-Jaimush Shagir wa Ziyadatuhu II/1199: 6577).
  • Tilawah lazthiyah, yaitu membacanya untuk mendapat pahala, sebagaimana diterangkan dalam hadits – hadits di bawah ini:
Rasulullah bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dan Kitab Allah (Al-Qur’an), maka ia akan memperoleh pahala satu amal kebajikan, dan pahala satu amal kebajikan dilipatkan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa Alif-Lam-Mim itu satu huruf, tetapi Alif itu satu huruf, Lam itu satu huruf, Mim itu satu huru.” (Shahih al-Jaimush Shagir wa Ziyadatuhu II/1103: 6469).

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang melakukan shalat malam dengan membaca 10 ayat, maka ia tidak dicatat sebagai golongan orang – orang yang lalai. Dan barangsiapa yang melakukan shalat malam dengan membaca 100 ayat, maka ia dimasukkan golongan qoonitiin (orang yang patuh/ahli ibadah). Dan barangsiapa yang melakukan shalat malam dengan membaca 1000 ayat, maka ia dimasukkan golongan muqanthir (orang yang bersedekah dengan arta yang banyak).” (Shahih al-Jaimush Shagir wa Ziyadatuhu II/1099: 6439).
  • Shadaqah Memberi Makan Orang yang Berpuasa
Rasulullah bersabda: “Barangsiapa menyediakan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, niscaya ia akan mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun.” (Shahih al-Jaimush Shagir wa Ziyadatuhu II/1095: 6415).

I’tikaf
I’tikaf, ialah menetap dalam masjid dengan disertai niat mendekatkan diri kepada Allah.
  • Tempat I’tikaf di Masjid
Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah [2]: 187).

‘Aisyah R.A berkata: “Nabi selalu I’tikaf pada malam – malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri – istrinya beri’tikaf sepeninggalnya.” (al-Lu’lu wal-Marjan 2/26: 728).
  • Menghidupkan 10 Malam Terakhir
‘Aisyah R.A berkata: “Rasulullah bersungguh – sungguh (beribadah) di puluhan yang akhir, apa yang beliau tidak kerjakan di puluhan yang lain.” (Shahih Muslim Syarah an-Nawawi, VIII/70).
  • Rasulullah Menganjurkan Untuk Mencari Malam Al-Qadr
‘Aisyah R.A berkata: “Rasulullah beri’tikaf pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan,” dan beliau bersabda: Carilah Lailatul Qadar pada malam – malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan.” (al-Lu’lu wal-Marjan 2/26: 728).

Dari Ibnu Abbas: “Bahwasanya Nabi bersabda: “Carilah ia pada malam – malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, yakni lailatul qadar pada malam tinggal sembilan malam lagi, tinggal tujuh malam lagi, dan tinggal lima malam lagi.” (Al-Bukhari: 1881).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar